Kamis, 06 Februari 2014

Teruntuk Pujangga



Pujangga...


Terlepas beberapa menit ku bertemu dengan yang terkasih,  that’s a power meet. Yaaaah... yang mengartikan sebentar namun sangat berkualitas.
Tapi... Itu semuanya terlalu singkat untuk wanita yg masih merindukanmu.. Hanya di sajak-sajak inilah semuanya aku tuangkan...
Kasih..... Dikala aku disini dan kamu jauh disana. Aku hanya inginkan;
satu, ingatlah aku.
Dua, jangan tergoda.
Dan yang terakhir, aku selalu menyelipkan namamu di setiap doaku. 
Di saat senja menyapa, kuinginkan kehadiranmu. Pujangga.........
Aku ingin seperti mentari pagi, yang selalu menyinari awal hari-harimu...
Dan aku ingin seperti rembulan malam, yang menutup hari-harimu dengan kehangatan...
Butuh 1 detik untuk mengenalmu. Tapi butuh berhari-hari, bertahun-tahun bahkan seumur hidup  untuk melupakanmu..
Di kala aku merindukanmu, aku hanya butuh jawaban dari waktu...
Ketika aku merindukanmu, aku hanya bisa bercerita pada Tuhan melalui air mata...
Kasih... aku dan kamu butuh waktu.
Kita butuh waktu.
Tapi, jangan pernah salahkan waktu. Karena dia adalah rahasia terindah...
Bercengkramalah pada waktu...
Dikala dinginnya malam, rembulanlah yg menghangatkan. Di kala ku merindumu, waktulah yg akan menjawab.
Terimakasih waktu... Kau memberikan arti disetiap detiknya...
Senja berteman langit jingga, pagi berteman kesejukan dan malam berteman bintang. Tuhan... Izinkanlah aku dan dia berteman dengan waktu..
Ukirlah nama kita berdua pada jarum jam, Tuhan...
Dahulu... Aku tidak mencintaimu.
Kini... Kau yang mengajariku cara mencintai...
Kasih.... Padukanlah kekuranganku dengan kelebihanmu. Begitupun sebaliknya. Agar cinta tumbuh penuh kisah...
Izinkanlah cintaku berdampingan bersama cintamu, wahai Pujangga....
Kau akan bahagia pada waktunya.. Entah dengan siapapun itu.. Tetap ingatlah, aku selalu mengirimkan Doa terbaik untukmu, Pujangga...
Tatapan matamu mengandung arti, arti dari masa depanku...
Aku hanyalah sepenggal kisah barumu yang menginginkan pelukan hangatmu dan sedikit mengharapkan masa depan denganmu...
Entah... Aku hanya serpihan kecil yang inginkan segenggam kasih cintamu...
Sakit yang kurasa tak perlu kau rasa.. Bahagia yang kualami kau harus merasakannya. Tapi duka dan pedihmu aku ingin menikmatinya...
Hembusan nafasmu bagaikan melodi terindah dalam hidupku...
Membiarkanmu adalah pekerjaan tersulit, merindukanmu menjadi sebuah kewajiban pokok, memerhatikanmu adalah pekerjaan terindah, dan cukup melihatmu tersenyum itu adalah gaji terbesar dalam hidupku.
 Rasakanlah angin ini, sayang... Semoga rasa rinduku berhembus bersama angin...
Rintihan hujan menemaniku... Hujan, sampaikan padanya aku tetap menanti hingga kau tak lagi merintih...
Hatiku berlumur rindu untukmu, kasih....
Terkadang apa yang kita inginkan belum tentu bisa kita dapatkan. Tapi, Tuhan akan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan.
Aku hanya inginkan hidup hingga merasakan asam garam kehidupan ini. Belum tentu Tuhan merestui. Karna, Tuhan tau apa yang kita butuhkan.
Kalau waktu bisa di putar kembali, semudah memutar CD akan kuputar sekali saja. Karna, aku hanya ingin kembali untuk tidak mengenalmu yang sekarang aku cinta.
Aku hanya inginkan tidak memiliki hal sulit seperti ini. Yaitu, melupakanmu atau merelakanmu untuk bersama orang lain.
Lebih baik aku terperangkap dalam lubang, masih bisa kupanjat.
Untuk melihatmu bersama orang lain dan kaupun bahagia. Aku harus apa?
Aku harus ikhlas. Tidak semudah itu.
Tuhan, tolong sampaikan padanya bahwa akulah yang sungguh-sungguh mencintainya.
Aku merasakannya, aku memendamnya. Jika aku utarakan langsung pada dirinya, dia pun tak akan mengerti.Biarkan ini menjadi sepenggal ceritaku
Tuhan... Izinkan aku mencintainya.. Jangan pulangkan aku sebelum dia mengerti apa maksud cintaku...
Tuhan, jemput aku disaat dia sudah mengerti apa arti cintaku.
Pertemukanlah aku dengannya di Surga nanti. Walaupun aku tak bersamanya didunia berikanlah kehangatan untuk kami di Surga.
Tuhan... jangan biarkan dia berteman sepi...
Ya Tuhan... Biarkanlah nafas hangatnya berhembus hingga ia menemukan kebahagiannya.

Sincerely, the woman who loved him..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar